Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Saturday, 2 August 2008

Aku Heran

Aku heran melihat orang berbangga dengan baju mewahnya, bukankah itu menunjukkan kekurangannya bahwa ternyata ia mempunyai tubuh yang tidak sempurna....dan aku berpikir apakah ia kelak akan dapat berbangga dengan penampilannya itu di padang Masyhar.
Aku heran melihat orang berbangga dengan make-up dan aksesoris di tubuhnya, bukankah itu menunjukkan bahwa wajahnya tidak sebagus aslinya...dan aku berpikir apakah ia masih dapat berbangga kelak ketika berhadapan dengan Rabbnya.

Aku heran melihat orang bangga dengan rumahnya yang megah, bukankah itu menunjukkan bahwa ia masih memerlukan tempat berteduh dibumi Allah yang sudah ditundukkan untuknya ini,.....dan aku berpikir apakah ia masih dapat berteduh kelak di Mahsyar ketika jarak matahari hanya beberapa jengkal darinya.

Aku heran melihat orang bangga dengan kendaraannya, bukankah itu menunjukkan kelemahannya bahwa ia masih memerlukan sarana untuk bergerak di bumi Allah yang kecil ini,.....dan aku berpikir apakah ia kelak masih dapat berbangga dengan kendaraannya ketika harus melewati titian shirath yang melintang diatas neraka.

Aku heran melihat orang berbangga dengan tanah luas dan kebun-kebun yang dimilikinya, bukankah itu menunjukkan bahwa ia masih memerlukan tempat pijakan di bumi Allah ini.....dan aku berpikir apakah ia kelak akan mampu mendapatkan tanah di surga meskipun hanya beberapa sentimeter.

Aku heran melihat orang berlomba-lomba mencari makanan mewah hanya untuk mengisi perutnya, bukankah itu menunjukkan dia masih memerlukan benda lain untuk bertahan hidup ...dan aku berpikir apa makanannya kelak di akhirat nanti

sumber : Kutai Timur
Penulis : Anonymous

Friday, 18 May 2007

Nikmatilah Indah dan Manisnya Buah Pemaksaan

Budaya diri itu tidak tercipta seketika, ada proses panjang yang harus dilalui. Seperti sebuah pahatan yang berkelas, ia adalah paduan antara kreasi, ide, kesabaran, dan semangat kerja yang tidak ada habisnya. Begitulah sebuah budaya diri yang baik. Ia mulanya-bahkan kebanyakan adalah ‘ pemaksaan’ lantas berubah menjadi kebiasaan. Lalu sesudah itu orang bisa mengalir dalam jalan kehidupannya yang baik. Dengan sesekali terjadi pasang surut semangat, tetapi ia tidak lupa dengan tujuan akhir hidupnya.

Bahkan malaikat pun perlu ‘memaksa’ Muhammad disela pengasingannya di gua hira, dengan perintah “Bacalah” dan beberapa kali Muhammad menolak dengan mengatakannya “Aku tidak bisa membaca”, yang akhirnya mau mengulang bacaan itu.

Tidak ada yang stabil dalam hidup ini. Seiring dengan perginya pagi dan datangnya siang, selalu saja ada hal baru yang berubah. Kadang ia mengenakkan. Tak jarang pula ia menyesakkan, orang-orang yang terbiasa hidup dengan semangat yang kuat, dengan ‘pemaksaan’ tidak akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.

Hubungan antara pemaksaan diri dengan keterkejutan sangat dekat. Manusia adalah anak kebiasaannya. Jika ia terbiasa bersusah payah, ia tidak akan terkejut dengan kesusahan. Sebaliknya, yang tidak terbiasa dengan kesulitan, dan hanya mengerti hidup yang enak, akan sulit membiasakan diri dengan hal-hal yang sulit.

dikutip dari Majalah Tarbawi